Sharing Economy Sebagai Investasi dan Inovasi Pengelolaan Terpadu pada Kelompok Masyarakat Berbasis Hilirisasi Kreasi Olahan Singkong Yang Berkelanjutan


Oleh adminr | 10 Nov 2025

Sleman, 10 November 2025 – Pembangunan dan pertumbuhan sektor pertanian memiliki pengaruh yang lebih besar dalam penurunan kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan dibandingkan sektor ekonomi lain bagi negara berkembang. Sebagaimana tercermin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), bahwa sebagian besar tujuan berpusat pada isu ketahanan pangan, dan pengurangan kemiskinan.

Pada 2025, salah satu tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari Muh Amat Nasir, S.P., MSc., Putrika Citta Pramesi, S.T.P., M.Sc., dan Dinda Dewi Aisyah, S.P., M.Sc. berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam skema Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat. Program tersebut mengadopsi pendekatan sharing economy sebagai kerangka kegiatan yang berfokus pada kelompok masyarakat yang produktif secara ekonomi berbasis komoditas singkong. Pengembangan komoditas singkong telah diidentifikasi sebagai strategi penting untuk meningkatkan efisiensi logistik, teknologi, dan modal dalam kelompok masyarakat terutama yang bermukim di wilayah marginal berbasis lahan kering.

Lokasi pemberdayaan berada di Padukuhan Nawung, Kalurahan Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi pemberdayaan ditentukan berdasarkan salah satu pertimbangan yang diperoleh dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman. Dengan kondisi alam yang berupa perbukitan dan letak geografis yang berada di wilayah marginal menyebabkan pertumbuhan ekonomi di Padukuhan Nawung masih tergolong cukup rendah. Padukuhan Nawung didominasi oleh kegiatan ekonomi berbasis pertanian (agro-based economy) lahan kering (tadah hujan) dan peternakan (ternak sapi). Sistem agribisnis yang berlangsung di Padukuhan Nawung dengan komoditas utama berupa singkong, perlu didukung dengan program pemberdayaan berbasis masyarakat dengan fokus untuk memberdayakan proses pengolahan, pemasaran, dan tata kelola kreasi olahan singkong.

Bagi Padukuhan Nawung, terdapat banyak kendala yang menghambat efisiensi rantai nilai singkong seperti mudah rusaknya umbi segar, sehingga singkong segar sebagian besar dijadikan sebagai pakan sapi oleh masyarakat setempat. Di sisi lain, dalam beberapa waktu terakhir beberapa masyarakat yang tergabung dalam kelompok MONALISA telah mencoba melakukan strategi hilirisasi untuk memperpanjang penyimpanan umbi singkong dengan diubah menjadi tepung mocaf.

Strategi hilirisasi singkong segar menjadi tepung mocaf yang dilakukan oleh kelompok MONALISA telah mampu memperlebar jangkauan pemasaran, dan meningkatkan harga jual singkong segar di tingkat petani. Meskipun demikian, MONALISA dalam berbagai macam aktivitas hilirisasi singkong dihadapkan oleh berbagai kendala seperti keterbatasan sumber daya teknologi pemrosesan singkong menjadi tepung mokaf. Oleh sebab itu, salah satu tujuan dalam program pemberdayaan ini adalah melakukan investasi sumber daya teknologi dalam pembuatan tepung mocaf.

Peningkatan tata kelola kreasi olahan berbasis tepung mocaf juga dilakukan oleh tim pengabdian. Pelatihan pembuatan produk bakpia kering berbasis tepung mocaf menjadi salah satu upaya peningkatan jangkauan pemasaran produk yang dihasilkan oleh MONALISA. Pelatihan tersebut dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan keseluruhan rantai nilai singkong di Padukuhan Nawung. Secara berkesinambungan, program pemberdayaan kelompok MONALISA yang dikelola secara terpadu diharapkan dapat meningkatkan akses sumber daya teknologi, keterampilan, dan peluang dalam hilirisasi singkong, sehingga dapat meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat Padukuhan Nawung.

 

Komentar

Tidak Ada Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disimpan dan dipublikasikan

Menu
Cari