Sleman, 4 Agustus 2026 – Dalam kehidupan modern, kemasan plastik sulit dipisahkan dari industri makanan. Namun, tidak semua jenis plastik aman untuk kesehatan. Faktor suhu tinggi dan penggunaan berulang bisa memicu bahaya kimiawi. Oleh karena itu, sistem kodifikasi kemasan diperkenalkan secara global. Sistem ini menggunakan simbol segitiga dengan angka 1 hingga 7. Di Indonesia, penerapan simbol ini dipantau ketat oleh BPOM.
Simbol ini merujuk pada Polyethylene Terephthalate atau biasa disebut kode PET. Bahan bening ini biasanya digunakan untuk botol air mineral kemasan. Sayangnya, jenis plastik PET hanya dirancang untuk sekali pakai saja. Penggunaan berulang atau paparan panas tinggi sangat dilarang dilakukan. Kondisi tersebut dapat meluluhkan zat kimia antimoni trioksida ke makanan.
Berbeda dengan PET, simbol angka 2 menawarkan tingkat keamanan lebih baik. Kode ini merepresentasikan material berkepadatan tinggi bernama High-Density Polyethylene (HDPE). Plastik tebal dan buram ini sering menjadi wadah susu cair. Karakteristik kimiawi HDPE dinilai jauh lebih stabil menghadapi suhu hangat. Alhasil, jenis ini termasuk plastik yang paling aman digunakan kembali.
PVC (Polyvinyl Chloride) merupakan material yang paling dihindari dalam industri pangan harian. Produsen sering mencampurkan zat pelentur pada plastik jenis ini. Paparan makanan panas dan berminyak bisa meluluhkan zat karsinogenik DEHA. Zat berbahaya tersebut sangat berisiko memicu penyakit kanker dalam tubuh.
Jika mencari keamanan optimal, perhatikan simbol angka 4 dan 5. Angka 4 adalah LDPE, yang biasa digunakan kantong belanja fleksibel. Sementara itu, angka 5 merujuk kepada material terbaik yaitu Polypropylene atau PP. Para ahli kesehatan sepakat bahwa PP aman untuk wadah makanan. Titik lelehnya tinggi sehingga aman dimasukkan ke dalam wadah microwave.
Kode 6 menandakan Polystyrene atau yang populer disebut sebagai bahan styrofoam. Pelaku usaha kuliner menyukai bahan ini karena praktis serta murah. Padahal, wadah ini dapat melepaskan residu stirena yang bersifat toksik. Zat beracun ini mudah luruh akibat makanan panas berlemak tinggi.
Kategori ini meliputi Polycarbonate (PC), nilon, hingga plastik berbasis nabati. Konsumen wajib bersikap selektif terhadap wadah dengan kode angka 7. Sebab, material PC diketahui mengandung zat berbahaya bernama Bisphenol A. Pastikan memilih produk berkode 7 yang berlabel bebas BPA.
Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam melihat potensi bahaya zat kimia tersebut. Melalui Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019, pengawasan kemasan diperketat. Aturan ini membatasi ambang batas migrasi zat berbahaya ke makanan. Langkah tegas tersebut bertujuan meminimalkan risiko penyakit berbahaya jangka panjang.
Ketujuh simbol angka tersebut bukan sekadar petunjuk teknis sampah. Simbol itu adalah instrumen edukasi kesehatan harian yang sangat krusial. Mari biasakan memeriksa bagian bawah kemasan sebelum membeli produk pangan. Konsumen yang cerdas mampu melindungi kesehatan seluruh anggota keluarga dengan baik. (nr)
Informasi Agenda Dinas
Tidak Ada Comment