Tenun Sleman, Warisan Wastra yang Perlu Revitalisasi


Oleh adminr | 06 Dec 2022

Penulis : Agung Tri Rahmanto (Penyuluh Perindag Madya Dinas Perindag Sleman)

Belum banyak yang tahu Kabupaten Sleman mempunyai potensi tenun tradisional yang sudah lama ditekuni sebagian warga Sleman sejak jaman dulu. Kegiatan menenun saat ini masih ditekuni sebagian masyarakat di wilayah Moyudan dan sekitarnya. Namun umumnya menjadi aktivitas sambilan disela kesibukan menggarap sawah. Teknik produksi yang digunakan  sebagian besar masih manual menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Jumlah unit usaha tenun yang menggunakan ATBM cukup banyak. Menurut Data Industri tahun 2021 dari Bidang Perindustrian, tidak kurang ada 497 pengrajin tenun di Sleman, yang sekitar 99%nya  memproduksi stagen dan ada di wilayah Moyudan.

Ketika kita masuk ke wilayah sentra tenun saat ini, sayangnya sudah tidak seramai dahulu suara riuh oglek alat tenun. Dari waktu ke waktu semakin banyak alat tenun yang menjadi usang tidak terpakai. Alat tenun yang masih aktif digunakan, dioperasikan oleh tangan-tangan renta para perajin yang umumnya sudah lanjut usia. Tentu kekuatan mereka menenun sudah tidak seperti saat muda dulu, sehingga wajar jika produktivitas IKM tenun semakin menurun. Perajin tenun dengan usia 40an sudah termasuk relatif muda di generasi penenun. Jumlah SDM tenun di usia produktif sudah sangat sedikit. Anak-anak muda di wilayah sentra tenun belum tertarik untuk menekuni aktivitas turun temurun ini.    

Rendahnya produktivitas industri tenun Sleman juga disebabkan peralatan yang masih tradisional dan sudah usang. ATBM yang digunakan umumnya sudah tua dan kurang maksimal perawatannya. Pengrajin yang umumnya wanita dan sudah tidak berusia muda menyebabkan perawatan dan perbaikan alat kurang optimal. Mereka juga mengalami kendala untuk mengadopsi teknologi baru karena beberapa hal. Kendala utama adalah harga alat tenun dengan mesin yang cukup mahal. Selain itu pengrajin enggan menggunakan mesin karena dirasa berbahaya dan memang perlu keterampilan yang agak berbeda dari biasanya. Beberapa IKM sudah menggunakan alat tenun mesin, namun memang terkendala dalam mencari SDM operator yang handal.

Selain masalah sumber daya penenun, industri tenun Sleman masih kurang dalam pengembangan produk. Sebagian besar penenun ATBM hanya memproduksi stagen yang merupakan produk yang dibuat sejak turun temurun. Selain stagen beberapa pengrajin ada yang membuat kain lap dan kain lurik. Namun jumlah pengrajinnya bisa dihitung dengan jari. Sudah ada upaya pengembangan diversifikasi produk tenun dengan dukungan dari berbagai pihak. Seperti yang dilakukan pengrajin tenun di Padukuhan Sejati Desa dengan pendampingan dari UGM,  mereka berupaya mengembangkan produk stagen pelangi. Kain stagen yang dibuat dengan benang warna-warni sehingga menyerupai lurik kecil. Stagen pelangi lalu dibuat menjadi aneka produk kerajinan seperti gelang, dompet, syal, dan tas. Program ini berjalan cukup baik karena dilakukan juga pendampingan untuk pemasaran luring dan daring. Namun pandemi menyebabkan kegiatan ini surut.

Produk stagen saat ini masih lancar pemasarannya. Pengrajin bisa menjual hasil tenunnya ke beberapa pengepul di wilayah Moyudan. Pengepul akan menjual ke pedagang yang akan dijual lagi ke beberapa wilayah hingga luar DIY bahkan luar negeri. Namun keuntungan yang didapat pengrajin sangat minim. Seorang penenun rata-rata bisa memproduksi 2 potong stagen, dan hanya mendapatkan sekitar Rp 5.000 setiap lembar stagen. Pengrajin umumnya bergantung dengan pengepul. Mereka belum melakukan upaya pemasaran secara mandiri, secara sulit mendapatkan harga yang lebih menguntungkan.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus berupaya melakukan pembinaan dan pendampingan kepada IKM tenun ATBM. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penguatan kelembagaan melalui pengukuhan sentra. Sentra tenun yang sudah dikukuhkan adalah sentra tenun Sumberarum dan sentra kerajinan Gamplong. Sentra Sumberarum melingkupi pengrajin tenun di beberapa padukuhan di Sumberarum, Moyudan. Luasnya cakupan wilayah ini cukup mempengaruhi jalannya organisasi sentra yang masih belum optimal.  Sedangkan sentra Gamplong sudah cukup aktif dan dinamis.  Sentra sudah bisa melakukan pengembangan dan terobosan untuk mengikuti perkembangan. Potensi kerajinan di Gamplong juga sudah dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata yang dikelola sebagai desa wisata.

Permasalahan  SDM dan  produktivitas tidak lepas dari perlunya mekanisasi peralatan secara bertahap. Hal  ini bisa dilakukan dengan mengenalkan penggunaan alat tenun bukan mesin yang selama ini dipakai dimodifikasi dengan penggerak motor listrik. ATBM yang dimodifikasi tersebut lebih sederhana secara teknis dibandingkan alat tenun mesin. Sehingga pengrajin yang sudah terbiasa dengan ATBM relatif mudah dan tidak canggung untuk beralih menggunakan alat yang baru.  Sudah ada beberapa IKM yang mendapatkan bantuan alat tenun dengan motor listrik dari CSR bank daerah  yanga ada di wilayah Sleman. Namun saat ini masih belum semua alat bisa dimaksimalkan karena keterbatasan kemampuan pengrajin menggunakannya. Hal ini bisa diatasi dengan  peningkatan kapasitas pengrajin dengan belajar dan praktek langsung bersama pengrajin yang sudah mahir menggunakan ATBM yang dimodifikasi. Saat ini pengrajin di sentra Gamplong sudah bisa menggunakan alat tersebut dengan baik, bahkan bisa membuat ATBM dengan motor listrik sendiri.

Pemerintah Kabupaten Sleman mempunyai keinginan untuk mengangkat potensi tenun ini lebih tinggi. Kebijakan pemerintah  terbukti efektif bisa menciptakan pasar yang bisa menggairahkan IKM, seperti kebijakan penggunaan batik parijotho. Untuk produk tenun Sleman memang saat ini belum banyak yang memproduksi kain lurik yang bisa dimanfaatkan menjadi baju. Kebijakan penggunaan baju lurik sebagai seragam ASN belum tentu bisa mengangkat IKM tenun Sleman, jika tidak disiapkan terlebih dahulu kapasitas dan kualitas produk IKM lurik Sleman. Upaya penguatan kelembagaan sudah dilakukan dengan pembentukan Asosiasi Pengrajin Tenun dan Lurik (AISHITERU) Kabupaten Sleman. Dengan adanya asosiasi akan bisa memperkuat sinergi IKM tenun menghadapi persaingan produk lurik dari luar Sleman yang memang sudah mapan dan lebih terkenal.

Pengembangan tenun Sleman sebaiknya didasari dengan road map yang bisa memberikan arah dan panduan langkah yang komprehensif. Program dan kegiatan yang mendukung pengembangan tenun disusun dengan tujuan dan target yang jelas dan melibatkan banyak stakeholder. Diharapkan dengan pola dan arah pengembangan yang jelas, tenun Sleman bisa berkembang dengan kekhasannya sendiri sehingga punya nilai tambah yang besar dan tidak head to head bersaing dengan produk tenun daerah lain yang sudah jauh lebih berkembang. 

Komentar

Tidak Ada Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disimpan dan dipublikasikan

Menu
Cari