Sleman, 30 Juli 2025 – Dalam upaya mendorong peningkatan jumlah pelaku ekspor baru di Kabupaten Sleman, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Manajemen Ekspor berbasis Pagu Usulan Partisipasi Masyarakat (PUPM). Kegiatan ini menyasar para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) di tingkat kapanewon yang memiliki potensi dan kesiapan untuk menembus pasar ekspor.
Kegiatan dilaksanakan dalam empat tahap selama bulan Juli 2025, dengan total 80 peserta IKM dari empat kapanewon berbeda. Tahap pertama diselenggarakan pada 9–10 Juli untuk IKM Kapanewon Gamping, tahap kedua pada 15–16 Juli untuk IKM Kapanewon Godean, tahap ketiga pada 22–23 Juli untuk IKM Kapanewon Cangkringan, dan tahap keempat pada 28–29 Juli untuk IKM Kapanewon Ngaglik. Seluruh rangkaian kegiatan bertempat di Hotel The Rich Jogja, dengan format pembinaan dua hari yang intensif.
Kegiatan dibuka oleh Kurnia Astuti, Kepala Bidang Usaha Perdagangan Disperindag Sleman. Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari realisasi PUPM, yakni bentuk partisipasi masyarakat dalam perencanaan kegiatan pembangunan yang inklusif dan aspiratif. “Kami mengusung pendekatan berbasis kebutuhan riil masyarakat pelaku usaha, agar pembinaan yang diberikan lebih tepat sasaran, berdampak, dan langsung menjawab tantangan di lapangan,” ujarnya.
Peserta mendapatkan materi dari berbagai narasumber berkompeten. Disperindag DIY memaparkan kebijakan umum ekspor serta tata cara pengisian Surat Keterangan Asal (SKA) yang penting untuk memenuhi aturan negara tujuan. Disperindag Sleman sendiri memaparkan strategi pengembangan ekspor daerah, termasuk upaya digitalisasi UMKM, promosi virtual, serta peran PaESS (Pasar Ekspor Sleman) sebagai etalase produk unggulan IKM untuk pasar luar negeri.
Materi teknis juga disampaikan oleh KPPBC Tipe Madya Pabean B Yogyakarta, yang menjelaskan tentang prosedur legal ekspor seperti pengurusan Nomor Induk Kepabeanan (NIK) dan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Kemudian GPEI (Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia) memberi wawasan mengenai penyusunan kontrak bisnis yang efektif dengan importir, termasuk aspek pembayaran, klausa pengiriman, dan penyelesaian sengketa.
Selain teori dan regulasi, pembiayaan ekspor juga menjadi salah satu topik penting. Bank BRI mempresentasikan berbagai produk perbankan yang mendukung ekspor, seperti export financing, L/C, dan skema pembiayaan berbasis invoice. Kegiatan ditutup dengan sesi best practice oleh dua pelaku ekspor sukses dari Sleman, yaitu Banania (produk makanan) dan Vifas Batik (produk fashion), yang membagikan pengalaman dan strategi dalam menembus pasar ekspor secara mandiri.
Melalui kegiatan ini, pelaku IKM Sleman diharapkan tidak hanya memahami teori dan prosedur ekspor, namun juga dapat mengakses informasi praktis dan jejaring bisnis yang dapat membuka peluang pasar baru. Disperindag Sleman menargetkan, dalam beberapa tahun ke depan, akan lahir semakin banyak eksportir baru dari sektor IKM, seiring dengan meningkatnya pemanfaatan digitalisasi dan sinergi lintas sektor. Program ini menjadi bukti komitmen pemerintah daerah dalam menjadikan IKM sebagai pilar utama ekonomi lokal sekaligus pemain di pasar global. (nr)
Informasi Agenda Dinas

Tidak Ada Comment