Pasar Pakem : Pusat Tradisi, Ekonomi, dan Wisata Lereng Merapi


Oleh adminr | 23 Jul 2025

Sleman, 23 Juli 2025 — Terletak di kawasan strategis Jalan Kaliurang KM 17, Pasar Pakem menjadi denyut utama perekonomian dan sosial budaya masyarakat Sleman bagian utara. Pasar yang berdiri di atas lahan seluas 5.645 meter persegi dengan luas bangunan 3.008 meter persegi ini tidak hanya menjadi pusat transaksi ekonomi harian, tetapi juga sarana pelestarian budaya dan pendukung wisata di lereng Gunung Merapi. Pasar Pakem aktif beroperasi setiap hari dan memiliki pasaran tradisional Legi dan Pon, menjadikannya sebagai salah satu pasar paling dinamis di Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, menyampaikan bahwa Pasar Pakem memiliki daya tarik tersendiri, terutama karena keberadaannya di jalur utama wisata Kaliurang dan didukung fasilitas publik yang lengkap. “Keberadaan lokasi yang strategis menjadikan Pasar Pakem sangat potensial sebagai sarana aktivitas ekonomi produktif. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pokok, tetapi juga mendukung kawasan wisata di Sleman,” ujarnya.

Total pedagang aktif di pasar ini mencapai 731 orang, terdiri atas 83 pedagang kios, 527 pedagang los tetap, dan 121 pedagang los sementara. Selain itu, terdapat 372 pedagang di luar dasaran yang turut menghidupkan kawasan pasar, menjadikannya sebagai salah satu pasar dengan jangkauan dan keberagaman komoditas paling luas di wilayah Sleman. Bahkan, pedagang tidak hanya berasal dari Kapanewon Pakem, tetapi juga dari Kulon Progo dan Magelang, menambah variasi barang dan kuliner yang dijajakan.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Pakem, Sarmidi, menjelaskan bahwa pasar ini telah berdiri sejak masa kolonial Belanda dan diwariskan secara turun-temurun antar generasi. “Sekarang banyak yang meneruskan usaha dari orang tuanya, bahkan ada yang sudah dijalankan oleh cucunya,” katanya. Dengan nilai sejarah yang kuat, Pasar Pakem menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas warga setempat.

Ciri khas lain dari Pasar Pakem adalah keberadaan kuliner tradisional khas kawasan Kaliurang yang sulit ditemukan di pasar lain. Kuliner seperti opor bebek, gudeg, dan jadah tempe menjadi incaran utama para pengunjung. Komoditas unggulan lainnya mencakup buah-buahan lokal seperti berbagai jenis pisang dan salak pondoh, menjadikan pasar ini tak hanya sebagai tempat belanja harian, tetapi juga destinasi wisata kuliner dan oleh-oleh lokal.

Pasar Pakem juga memainkan peran penting sebagai sumber pendapatan asli daerah (PAD). Dengan operasional harian yang dimulai sejak pukul 02.00 WIB untuk pedagang di sisi barat dan pukul 05.00 WIB untuk area dalam pasar, aktivitas perdagangan berlangsung hingga sekitar pukul 14.00 WIB. “Dulu sebelum pandemi, pasar biasanya sepi setelah pukul 14.00, tapi sekarang lebih cepat sepi sekitar Dzuhur. Namun, masih ada pembeli yang datang hingga siang hari,” jelas Sarmidi.

Dengan seluruh potensi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus mendorong penguatan kelembagaan pasar, termasuk dengan pembentukan paguyuban pedagang dan edukasi melalui program Sekolah Pasar. Pasar Pakem pun semakin siap menjadi pasar tradisional modern yang menggabungkan kearifan lokal dengan daya saing ekonomi dan pariwisata, serta tetap menjaga kekhasan budaya Sleman. (nr)

Komentar

Tidak Ada Comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email anda tidak akan disimpan dan dipublikasikan

Menu
Cari