Sleman, 6 Februari 2026 – Tradisi Nyadran di Pasar Induk Godean yang dimulai awal Februari ini menjadi momentum yang menegaskan bahwa pasar tradisional bukan sekadar pusat transaksi ekonomi. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus sarana spiritual bagi komunitas pedagang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Penyelenggaraan ritual ini membuktikan bahwa nilai-nilai luhur Jawa tetap mampu bertahan di tengah deru aktivitas ekonomi modern.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (5/2/2026) tersebut merupakan hasil inisiatif murni dari para pedagang di lingkungan Pasar Godean. Pemerintah Kabupaten Sleman, melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap penyelenggaraan Nyadran ini. Pelaksanaan secara swadaya tersebut dinilai sebagai cerminan kuat dari semangat gotong royong yang menjadi fondasi karakter masyarakat, khususnya di wilayah Sleman.
Kepala Dinas Perindag Kabupaten Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, dalam sambutannya menekankan bahwa tradisi Nyadran memiliki filosofi yang melampaui sekadar seremoni budaya. Menurut beliau, kegiatan ini merupakan manifestasi rasa syukur atas keberlangsungan usaha serta dedikasi untuk mendoakan para pendahulu/leluhur. Nilai-nilai kebersamaan ini diharapkan dapat terus terjaga demi kelestarian identitas sosial masyarakat.
Hal yang paling menonjol dalam penyelenggaraan Nyadran ini adalah keterlibatan aktif para pedagang dalam seluruh aspek teknis acara. Tanpa bergantung pada pihak eksternal, para pedagang dari sebelas komoditas utama di Pasar Godean bertindak langsung sebagai penyelenggara, mulai dari petugas protokol, penari kesenian rakyat, hingga pengisi tausiyah agama. Kemandirian ini menunjukkan rasa memiliki yang luar biasa terhadap tempat mereka mencari nafkah.
Secara sosiologis, tradisi ini berfungsi sebagai perekat hubungan antar individu di tengah persaingan usaha yang kian kompetitif. Sebanyak kurang lebih 800 pedagang turut serta memeriahkan prosesi ini, menciptakan ruang dialog yang lebih humanis di luar konteks jual-beli. Disperindag berharap atmosfer positif ini dapat ditransformasikan ke dalam pelayanan harian kepada konsumen melalui penerapan budaya sapa dan santun yang lebih intensif.
Pasar Induk Godean sendiri memiliki keunikan historis yang membedakannya dengan pasar lain, yakni keberadaan Makam Mbah Jembrak. Sosok yang diyakini sebagai sesepuh dan pelindung spiritual wilayah Godean ini menjadi pusat orientasi budaya bagi para pedagang setempat. Ziarah ke makam tersebut dalam rangkaian Nyadran dianggap sebagai upaya merawat memori kolektif dan sejarah lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Ketua Panitia pelaksana, Ngaji, menegaskan bahwa meskipun infrastruktur pasar telah bertransformasi menjadi bangunan yang megah dan modern, ruh tradisionalnya tidak boleh luntur. Ia memandang bahwa pengelolaan pasar di masa depan harus mengadopsi manajemen modern namun tetap berakar pada etika dan mentalitas budaya Jawa. Hal inilah yang diyakini akan menjadi daya tarik unik bagi pengunjung dibandingkan dengan pasar-pasar modern lainnya.
Selain aspek religi dan budaya, terdapat aspirasi kuat untuk mengembangkan potensi Makam Mbah Jembrak sebagai destinasi wisata religi terpadu. Rencana ini bertujuan untuk menyinergikan aktivitas ekonomi pasar dengan kunjungan para peziarah yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar Kabupaten Sleman. Langkah strategis ini diharapkan dapat meningkatkan volume kunjungan masyarakat ke Pasar Induk Godean secara keseluruhan.
Disperindag Sleman senantiasa mendukung visi tersebut, dengan catatan bahwa pengembangan wisata religi tetap harus menjaga kesakralan dan kenyamanan lingkungan pasar. Kebersihan, keamanan, dan ketertiban gedung pasar pasca-revitalisasi menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pedagang. Momentum Nyadran ini diharapkan mampu memicu kesadaran kolektif untuk menjaga fasilitas publik yang telah dibangun tersebut.
Sebagai penutup, kesuksesan penyelenggaraan Nyadran 2026 di Pasar Induk Godean menjadi bukti nyata bahwa kemajuan fisik bangunan tidak harus mengorbankan akar kebudayaan. Sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas pedagang dalam merawat tradisi menjadi kunci utama agar pasar rakyat tetap memiliki “ruh” dan identitas di tengah arus globalisasi. Dengan semangat ini, Pasar Godean optimis dapat terus berkembang sebagai pilar ekonomi yang berbudaya. (nr)
Informasi Agenda Dinas

Tidak Ada Comment