Type to search

Berita

BATIK MOTIF “SINOM PARIJOTHO SALAK”

Share

 

Batik khas Sleman lahir dari adanya Lomba Desain Batik Sleman pada tahun 2012. Lomba yang diprakarsai oleh Dekranasda Kabupaten Sleman ini bertujuan untuk menggali potensi desainer-desainer batik dalam menggali motif-motif batik yang bersumber pada kekayaan alam dan budaya Kabupaten Sleman. Terdapat tujuh pemenang yang dinilai layak untuk menjadi motif batik khas Sleman. Pemenang lomba dinilai berdasarkan orisinalitas ide, komposisi bentuk motif, komposisi warna, dan realibilitas produksi.

Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan hasil lomba menjadi kegiatan pengembangan batik yang berpotensi menjadi kegiatan yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat. Keberlanjutannya dilakukan dengan mengadakan kajian-kajian estetik dan pengayaan desain melalui pencarian visualisasi yang terus disempurnakan. Terpilih dua motif yang dikolaborasikan menjadi satu kesatuan motif, yaitu motif yang terinspirasi dari buah parijotho dan salak. Kedua macam tanaman ini banyak terdapat di Kabupaten Sleman, parijotho banyak ditemui di wilayah yang memiliki suhu udara relatif dingin dan salak banyak dikembangkan di wilayah lereng Gunung Merapi.

Ciri fisik parijotho terlihat khas pada bentuk oval pada daun yang bertulang dengan bunga berwarna putih kemerahan, sedangkan buahnya berwarna merah maroon. Buah salak memiliki kekhasan pada buahnya yang berwarna kecoklatan dengan kulit bersisik dan tumbuh secara bergerombol dalam satu tangkai. Buah salak dari daerah ini dikenal dengan nama salak pondoh yang menjadi komoditas andalan Kabupaten Sleman. Rasa buah salak pondoh sangat manis khas yang disukai masyarakat baik di wilayah Kabupaten Sleman maupun masyarakat di luar daerah ini.

Desain motif Sinom Parijotho Salak merupakan stilasi dari dua desain motif pemenang Lomba Desain Batik Sleman 2012. Desain Motif Parijotho dibuat oleh Susilo Radi Yunianto sebagai pemenang pertama dan desain motif Salak dibuat oleh Isdianto sebagai pemenang Keenam. Kedua motif tersebut didesain ulang oleh perajin-perajin batik Paguyuban Batik Khas Sleman  yang diketuai oleh Rahmad Soemardi, A. Md.  Kekhasannya terdapat pada penggabungan motif parijotho dan salak menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Terdapat motif batik parijotho yang dikembangkan oleh beberapa pembatik dari daerah lain, tetapi kekhasan batik motif “Sinom Parijotho Salak” terlihat sangat jelas. Kekhasan tersebut tampak pada visualisasi motif yang memiliki koomposisi bentuk dan warna. Secara filosofis motif batik ini dapat diartikan sebagai harapan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat yang terayomi oleh kearifan para pemimpin pemegang amanah rakyat di Kabupaten Sleman. Makna ini terinspirasi dari visualisasi dari warna hijau daun yang memiliki tulang kokoh menopang bentuknya. Buah atau bunga parijotho sangat indah menjadi pusat perhatian (center of interest) pada komposisi motifnya. Buah salak menghiasi sekelilingnya memiliki makna kemakmuran nyata yang telah dinikmati masyarakat Kabupaten Sleman. Desain ini sangat kuat memiliki kekhasannya dengan isen-isen cecek sebagai pengisi bidang kosong yang dikembangkan oleh pembatik-pembatik Jawa sejak dahulu kala.

Menurut kajian salah satu juri Lomba Desain Batik Sleman 2012, Bapak Dr. Hajar Pamadhi yang juga merupakan tenaga pengajar Universitan Negeri Yogyakarta, motif batik ini dapat dikembangkan dengan empat macam teknik, yaitu :

  1. Batik Tulis, dimana seluruh pengerjaan menggunakan canting dengan teknik tulis. Batik ini terasa klasik dengan sebagian garis tulang daun dikerjakan dengan canting cecek. Sehingga, motif ini menjadi semakin kuat orientasi kepada batik klasik gaya Kabupaten Sleman.
  2. Batik cap akan mudah dibuat cap untuk klowongannya. Jika kemudian disanggit akan mudah menerapkan dalam petak-petak kain dasarnya. Sanggitan tersebut ditentukan oleh luasnya cap berdasarkan kebutuhan.
  3. Batik lukis, sebagai pengembangan batik tulis dan batik cap berupa batik lukis. Kemungkinan orientasi batik lukis adalah ekspresi, oleh karenanya dapat diambil bentuk dasar, atau pewarnaannya. Jika menjadi bentuk dasar maka batik lukis dapat dibuat lebih realistik dengan berbagai teknik cabut warna, tutup celup maupun colet.
  4. Batik campuran merupakan alternatif dengan batik sablon. Kemungkinan untuk konsumsi tingkat rakyat. Hal ini diajukan karena dalam sejarah perbatikan di Yogjakarta atau Indonesia pada umumnya dikenal batik rakyat. Batik rakyat adalah batik yang dikonsumsi oleh rakyat atau batik becak. Batik ini diproduksi karena (1) ketidakmampuan secara finansial untuk membeli batik, atau (2) ketidakmampuan untuk memproduksi secara masal maka dilakukan dengan teknik sablon. (3) sebagai gaya batik atau motif; dalam hal ini motif ini sangat dibutuhkan namun masyarakat tidak mampu membeli batik tulis, oleh karenanya diproduksi dengan teknik printing atau sablon. Namun dalam hal ini bersifat sementara.

 

Deskripsi Visual Motif “Sinom Parijotho Salak”

Motif ini terdiri dari elemen tanaman parijotho (tangkai, daun, dan bunga) dan tanaman salak pondoh (daun dan buah), serta hiasan stilasi daun salak pada tepi kain. Posisi tanaman parijotho dibuat komposisi diagonal yang di sela-sela bidangnya diisi dengan motif bauh dan daun salak pondoh. Latar belakang motif diisi dengan motik cecek berupa titik-titik kecil tersebar merata. Warna yang diguankan terdiri dari warna hitam, biru, coklat, kuning, dan putih. Bunga parijotho berwarna biru dan putih yang dikomposisikan secara ritmik kontinyu (repetisi) dengan arah diagonal. Daun tanaman parijotho dibuat dengan warna coklat, putih, dan kuning yang menampakkan tulang-tulangnya sebagai elemen estetis visual yang menjadi aksen pada kelompok motif parijotho. Daun salak pondoh dikomposisikan secara acak, namun selalu berdekatan dengan buah salak pondoh. Daun salak pondoh dibuat dengan dua macam yaitu warna coklat dan gabungan coklat dan putih. Buah salak pondoh dibuat dengan warna coklat, putih, dan kuning.

Motif  “Sinom Parijotho Salak

Motif Batik Sinom Parijotho Salak pertama kali dilaunching pada saat Pameran Potensi Daerah (PPD) tahun 2014,  dan untuk tata kelola motif batik Sleman diatur dalam Peraturan Bupati (Perbup) Sleman Nomor 35 Tahun 2015.

Untuk melindungi motif batik khas Sleman, dilakukan pendaftaran Hak Cipta Sinom Parijotho Salak, Parijotho Merapi, Salak Pondoh dan Gajah Kombinasi Parang Rusak Barong.

 

Tags:

You Might also Like

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *