Laporan Perkembangan Harga Sembako

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus diprioritaskan pemenuhannya, oleh karena itu pemerintah berkewajiban untuk menjaga stabilitas baik harga maupun persediaannya. Harga pangan yang tidak terkendali mempunyai efek berantai yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada instabilitas kondisi sosial dan politik.

Mempertimbangkan dampak yang diakibatkan oleh ketidakstabilan harga pangan terhadap kenyamanan kehidupan bermasyarakat, maka pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan terus melakukan usaha pemantauan pergerakan harga komoditi pangan di beberapa pasar tradisional guna mencegah terjadinya gejolak harga yang dapat meresahkan masyarakat. Pemantauan dilakukan setiap hari di Pasar Sleman, Pasar Tempel, Pasar Godean, Pasar Prambanan, Pasar Gamping, dan Pasar Pakem terhadap 19 macam komoditi pangan.

Pemantauan dan informasi harga selama ini dilakukan berdasarkan hasil sampling harian terhadap pedagang bahan pangan di 6 pasar besar di wilayah Kabupaten Sleman. Ke-enam pasar ini dianggap mampu mewakili kondisi dan situasi pergerakan harga bahan pangan di wilayah Kabupaten Sleman. Berikut adalah rangkuman hasil pemantauan selama bulan Juli 2017 dan perbandingan harganya dengan bulan sebelumnya.

Pada bulan Juli 2017, secara umum dapat disimpulkan bahwa harga bahan pangan sebagian besar  mengalami penurunan. Untuk kategori sembako terdapat tiga komoditi yang mengalami banyak perubahan yaitu minyak goreng curah, gula pasir, dan tepung terigu. Ketiga komoditi ini diperdagangkan pada level harga Rp 11.797,-, Rp 12.674,- dan Rp 7.593,- atau terjadi penurunan harga sebesar masing-masing 9,24%, 9,28%, dan 10,67% jika dibandingkan dengan harga di bulan Juni. Sedangkan untuk komoditas sembako yang lain, misalnya beras dan telor ayam broiler tidak banyak mengalami perubahan jika dibandingkan dengan tingkat harga di bulan sebelumnya.

Untuk harga rata-rata komoditas cabai juga mengalami penurunan harga dengan persentase penurunan yang sangat signifikan lebih dari 30%. Persentase penurunan harga tertinggi hingga 43,57% adalah cabai rawit merah yang diperdagangkan pada level harga Rp 27.589,-. Kemudian diikuti oleh cabai merah keriting yang diperdagangkan pada level harga Rp 17.100,- atau dengan persentase penurunan sebesar 37,33% jika dibandingkan dengan harga bulan sebelumnya. Sedangkan untuk cabai rawit hijau persentase penurunannya sebesar 30,75% atau turun harga ke level Rp 21.561,-. Secara umum terjadinya penurunan harga untuk komoditas cabai ini disebabkan pasokan yang mulai terjaga karena produksi cabai di daerah sentra penghasil cabai yang mulai stabil karena faktor cuaca yang kondusif.

Sementara itu untuk kelompok bahan pangan sayur dan bumbu, garam adalah bahan pangan yang menunjukkan fluktuasi harga sangat signifikan pada periode bulan Juli. Terjadi kenaikan harga sebesar 48,41% pada minggu keempat dari harga Rp 4.500,- pada minggu ketiga menjadi Rp 6.679,- di minggu keempat. Meskipun pada minggu-minggu sebelumnya juga telah mengalami kenaikan harga namun kenaikan harga dari minggu  ketiga ke minggu keempat adalah yang terbesar. Kenaikan harga garam ini terus berlanjut hingga akhir bulan Juli dimana pada minggu kelima diperdagangkan pada level harga Rp 8.398,- atau naik 25,61% dari harga pada minggu keempat. Selain terjadi kenaikan harga, garam juga langka di pasaran. Berdasarkan keterangan dari pemasok garam seperti yang disampaikan oleh pedagang di beberapa pasar tradisional di wilayah Sleman penyebab kenaikan harga dan kelangkaan garam ini adalah jumlah pasokan yang jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebutuhan pasar. Pasokan yang menurun ini menyebabkan harga garam meroket. Sedangkan penyebab dari berkurangnya pasokan sendiri adalah faktor cuaca di daerah sentra penghasil garam dimana curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan petani garam gagal panen.

Leave a Reply